Polling

Menurut anda Tampilan Web site ini Bagaimana ?


Hasil

Statistik Pengunjung


Pengunjung Hari ini : 35
Pengunjung Bulan ini : 7
Total Pengunjung : 261

Produk Unggulan

PERKEBUNAN KARET MERUPAKAN SUMBER UTAMA PENGHASILAN MASYARAKAT DESA PAGAR GUNUNG LUBAI


Perkebunan karet salah satu sumber penghasilan masyarakat Desa Pagar Gunung Lubai, hasil dari perkebunan karet di jual oleh masyarakat desa pada hari minggu sore dan senin pagi pada saat pasar desa / kalangan  untuk hasil karet keseluruhan  dalam satu minggu sekitar 60 - 80 Ton / minggu dengan kisaran harga di minggu - Minggu terahir ini 7600 - 800 /kg. sedangan untuk definisi perkebunan Karet (Hevea brasiliensis) adalah tanaman perkebunan/industri tahuanan berupa pohon batang lurus yang pertama kali ditemukan di Brazil dan mulai dibudidayakan pada tahun 1601. Di Indonesia, Malaysia dan Singapura tanaman karet dicoba dibudidayakan pada tahun 1876 oleh Hendri A. Wickham.
Tanaman karet di Indonesia pertama ditanamn di Kebun Raya Bogor. Karet cukup baik dikembangkan di daerah lahan kering beriklim basah. Tanaman karet memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan komoditas lainnya, yaitu:
  1. Dapat tumbuh pada berbagai kondisi dan jenis lahan, serta masih mampu dipanen hasilnya meskipun pada tanah yang tidak subur.
  2. Mampu membentuk ekologi hutan, yang pada umumnya terdapat pada daerah lahan kering beriklim basah, sehingga keret cukup baik untuk menanggulangi lahan kritis.
  3. Dapat memberikan pendapatan harian bagi petani yang membudidayakannya.
  4. Memiliki prospek harga yang cukup baik.

Pohon karet akan dapat dipanen getahnya pada usia 5 tahun dan memiliki usia produktif sampai 25-30 tahun. Buah karet berbentuk kotak tiga/empat. Setelah berumur 6 bulan buah akan masak dan pecah sehingga biji karet terlepas dari batoknya. Biji karet terdiri dari 40-50% kulit yang keras, bewarna coklat, 50-60% karnel yang bewarna putih kekuningan. Kernel biji karet mengandung minyak 40-50%, 2,71% abu, 3,71% air, 22,17% protein dan 24,21% karbohidrat. Ini menunjukan bahwa biji karet berpotensi untuk menjadikan sumber minyak nabati. Tetapi kandungan air yang cukup besar dalam biji dapat memicu hidrolisis trigliserida menjadi FFA. Biji karet merupakan limbah pertanian yang tidak mempunyai nilai ekonomi, tidak memerlukan lahan subur, pemeliharaan yang intensif  dan ketersediaannya melimpah

 


Share :